Akhirnya Dibawain Brownies Panggang

Apr 14, 2024

Pelajaran sudah ditutup sedari lima menit yang lalu, tapi karena Yicel, Raleigh dan Widuri mendapatkan jadwal piket kelas untuk hari ini, jadi mereka bertiga harus membereskan kelas terlebih dahulu sebelum pulang.

Lagi fokus-fokusnya merapihkan bangku dan meja, tiba-tiba ada satu orang murid, teman sekelasnya yang menyembulkan kepala dari balik pintu. “Widuri, dicariin bapak lu noh di parkiran,” katanya.

“Oiya, iya, ini bentar lagi kelar, tolong bilangin dong, putri kecil ayah-nya masih cosplay jadi upik abu sekolahan,” ucap Widuri.

Yang diajak bicara di pintu kelas sana hanya membalasnya dengan jari jempol tanda menyetujui perintah Widuri dan langsung pergi meninggalkan kelas.

"Kalo mau duluan, duluan aja, Wid, ini juga udah tinggal satu baris belakang doang, abis itu selesai," ucap Yicel yang disetujuin Raleigh dengan anggukkan.

“Serius?”

“Iyeeee, udah sana, kasian bapak lu nungguin kelamaan nanti,” Raleigh mendorong pundak Widuri pelan dan mengambil alih pekerjaan Widuri.

“Yaudah, gue duluan ya freeeen, dadah...,” ucap Widuri setelah merapihkan tas sekolahnya.

Semua tugas piket kelas sudah selesai dikerjakan, Yicel dan Raleigh buru-buru membereskan tas sekolahnya.

“YICEEEEEEEL!!! DITUNGGUIN SAMA KAKAKNYA TUH!!!” teriak Widuri dari ujung lorong depan kelas yang membuat Yicel dan Raleigh saling tukar pandang.

“Sejak kapan lu punya kakak?” tanya Raleigh.

“Gatau, gua juga bingung,”

"YICEEEEEEEL!!! KAKAK LU CAKEP BANGET, KOK GA PERNAH DIKENALIN KE GUA SIH!?!?!??” Widuri teriak lagi.

“IYA!!!! NANTI GUA KENALIN!!!” balas Yicel yang masih bingung, tapi nggak mau dibawelin lebih sama teriakkan Widuri.

Nggak lama dari itu, Raleigh dan Yicel membawa langkahnya cepat ke parkiran sekolah. Disana udah ada Widuri, Orangtua Widuri, Bhumi dan juga Huges.

"Mas Bhumi?? ngapain?" tanya Yicel pada dirinya sendiri.

Yicel dan Raleigh datang mendekat ke orangtua Widuri untuk salim.

“Yicel, kakak kamu mirip Bapaknya Widuri jaman muda, bedanya dia ga cepak,” kata Ayah Widuri sambil pamerin rambut gondrong suaminya.

Yicel bolak-balik memperhatikan Bhumi dan Bapaknya Widuri. “Om Sigit, sekali-sekali dicepak dong, emang ga gerah apa, Om?”

"Gerah sih, tapi kerenan gondrong gini ah," ucap Sigit sambil menyisir poni rambutnya ke belakang.

"Om Sigit, Om Rehan, aku pamit duluan ya, takut kesorean terus macet," ucap Raleigh sambil saliman pamit ke orangtua Widuri diikuti Huges di belakangnya.

"Masa takut sama macet sih, Lei? takut tuh sama Tuhan," balas Sigit.

"Apaansi, Pah?" Widuri sewot mendengar jokes bapak-bapak yang diucapkan Papanya.

Dumelan Widuri bikin semua yang nyaksiin tertawa bersamaan.

Setelahnya, Mobil Widuri dan Motor Huges yang membonceng Raleigh udah pergi keluar dari area sekolah, Bhumi juga udah duduk di kursi kemudi mobilnya, sisa Yicel yang masih diam di tempat dan masih nggak ngerti sama situasi ini.

Nggak tau kenapa, tiba-tiba Yicel canggung di depan Bhumi. Yicel melangkahkan kakinya cepat ke arah pintu gerbang sekolah dan langsung disusul oleh laju mobilnya Bhumi.

"Cel!" panggil Bhumi yang membuat langkah Yicel terhenti. "Masuk,"

"Hah?" Yicel mengerutkan alisnya bingung.

"Sini, naik, saya anter pulang,"

Yicel tengok ke gerbang, ada satpam yang lagi nungguin mereka keluar dan siap-siap menutup gerbang. Karena merasa nggak enak sama satpam, dia langsung buru-buru naik ke mobil Bhumi.

"Mas Bhumi, ngapain, Mas?" tanya Yicel bingung.

"Mari, Pak" bukannya menjawab pertanyaan Yicel, dia malah menyapa ramah satpam. "Ayah suka brownies ga, Cel?" tanya Bhumi tiba-tiba.

"Suka! apalagi brownies panggang, beuh... itu Ayah paling suka, Mas," jawab Yicel antusias dan rasa bingungnya udah langsung teralihkan.

Bhumi merasa lega mendengarnya, karena kebetulan yang dia beli tadi sebelum jemput Yicel adalah brownies panggang kering. "Nanti kasih tau arah rumah kamu ya, Cel,"

"Mas Bhumi mau main ke rumah?"

"Iya, saya mau kenalan sama idola kamu, Ayah," Bhumi senyum mengalihkan fokus nyetirnya sekilas ke Yicel.

"Padahal main ke rumahnya ga harus sekarang banget tau, saya takutnya Mas Bhumi lagi sibuk,"

"Gapapa, Cel, lagi luang juga kok ini."

"Yeayyyy, ga sabar dengerin obrolannya orang pinter, —Nanti di depan abis plang indie market itu belok kiri ya, Mas, terus nanti lurus aja terus, soalnya rumah saya ada di ujung,"

Bhumi inget-inget arahan Yicel sampai mobilnya berhenti tepat di depan rumah kecil, minimalis, halamannya asri penuh dengan tanaman hias.

"Mobilnya dimasukkin ke carpot aja, Mas,"

"Nanti kalo Papa kamu pulang, mobilnya gimana?"

"kayaknya Papa tadi naik motor deh, —Udah, gapapa dimasukkin aja, Sebentar, saya bukain gerbangnya dulu,"

Bhumi buru-buru nahan Yicel yang mau buka pintu mobil. "Saya aja, Cel, sekalian mau nge-pas-in ukuran carpot-nya supaya mobilnya bisa saya parkirin lurus,"

Bisa aja nih alesannya Mas Bhumi.

"Digembok, Cel,"

"Mentok-mentokkin aja gemboknya ke pager biar Ayah denger dari dalem," Yicel menyembulkan kepalanya keluar dari jendela mobil. "AYAAAAH!!! YICEL PULANG!!!!" teriak Yicel yang sedikit membuat kaget Bhumi. "Tuh, Ayah, —Masuk aja, Mas Bhumi, biar ayah yang bukain gerbangnya,"

Bhumi menganggukkn kepala hormat sapa Ayah Yicel yang baru aja keluar Rumah dan berlari kecil untuk membuka gerbang.

Setelah mobil terparkir rapih, Yicel dan Bhumi segera turun dari mobil, menghampiri Ayah.

"Ooh... Icel sekarang pulangnya udah bawa gandengan?" ledek Ayah.

"Wkwkwk, kalo gandengan mah aku gandeng, ini kan ngga, gimana sih, Yah?"

Sahutan Yicel membuat Ayah dan Bhumi sama-sama tertawa gemas.

"—Ayah, ini Mas Bhumi, owner library cafe yang waktu itu aku ceritain. Mas Bhumi, ini Ayah saya yang ngefans sama Damien Radimir ituuu,"

"Bhumi, Om," Bhumi salim ke Ayah Yicel dan langsung nyerahin kantong brownies panggang setelahnya.

"Eh, repot-repot gini, Bhum, makasih ya," Ayah Yicel menyambut hangat kedatangan Bhumi.

"—Ayah, Mas Bhumi, kenalin juga ini Yicel," interupsi Yicel seolah-olah memperkenalkan dirinya sendiri yang lagi-lagi membuat dua orang di hadapannya gemas.

"Yicel, kotak bekelnya langsung dikeluarin ya, taruh di tempat cuci piring, terus langsung ganti baju, —Bhumi, ayo masuk, kita ngeteh-ngeteh dulu di dalem sambil nunggu Papa-nya Yicel pulang ngantor," ucap Ayah sambil berjalan masuk ke dalam rumah diikuti Yicel dan Bhumi.