Pancong Lumer Warkop

Apr 23, 2024

Meskipun masih ada beberapa kafe lain di sekitaran sekolah Yicel, tapi nggak tahu kenapa, yang punya Bhumi selalu jadi yang paling ramai. Mungkin, karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan halte bus kota? atau mungkin juga, bentuk bangunannya yang lebih besar dibandingkan kafe-kafe tetangga? atau…, karena suasananya yang sengaja dibuat seperti rumah sederhana milik Kakek-Nenek yang menjadikan material kayu panel sebagai komponen penting pada bangunannya? ntahlah, semua strategi marketing itu cuma Bhumi yang tahu persisnya seperti apa.

Pot berisi tanaman hias yang digantung di kanopi teras depan, aroma kopi, latte, berbagai jenis kue yang dipajang di etalase, dan pengharum ruangan yang berlomba-lomba mendominasi indra penciuman siapapun yang baru saja mendorong pintu dari luar.

Yicel terus berjalan masuk ke ujung ruangan, dimana ada satu set meja dan kursi favoritnya disana. “Ih… beneran dipasangin papan reservasi wkwkwk,” katanya sambil meletakkan tas ransel sekolahnya ke kursi.

Drrt… Drrt… Drrt… hp Yicel yang ada di saku celananya bergetar tanda panggilan telepon masuk— ternyata itu dari Bhumi.

“Halo,” sapa Yicel.

“Udah selesai sekolahnya?”

“Udah, ini saya baru aja nyampe di kafe, tadi mau ngabarin tapi Mas Bhumi udah keburu nelepon duluan,” jawab Yicel sambil berjalan ke kasir untuk memesan milshake coklat kesukaannya. “Mbak, saya mau milkshake coklat satu, tapi milk-nya pake almond milk atau oatmilk juga boleh, yang penting jangan susu sapi ya, Mbak, terus sama pancong lumer yang original satu,”

“Mohon maaf, Kak, menu edisi warkopnya baru ada nanti jam tujuh-an,” ucap Mbak kasir sedikit mematahkan mood baik Yicel.

Mata Yicel terarah ke jam digital di dinding belakang Mbak kasir. Agak sedikit kecewa mengetahui fakta bahwa sekarang masih jam tiga sore.

“Atau mau coba souffle pancake yang setengah mateng, Kak?” tawar si Mbak.

“Ga usah deh, Mbak, kalo gitu milkshake coklatnya aja yang tadi,”

“Baik, Kak, atas nama siapa?”

“Yicel,”

Mbak kasir kembali menunduk fokus mengotak-atik mesin kasir. “Ohh.. ini yang namanya Yicel..,” lirihan Mbak kasir sampai ke telinga Yicel. “Totalnya jadi dua puluh dua ribu delapan ratus ya, Kak,”

Yicel mengeluarkan uang dari dompet lipat kecilnya.

“Ini struk dan kembaliannya, silahkan tunggu ya, Kak,”

“Ok, makasih ya, Mbak,” ucap Yicel meninggalkan area kasir.

“Buku yang kemarin udah selesai dibaca?” suara Bhumi di telepon kembali menginterupsi.

“Yang ‘Satu Jam Sebelum Fajar’?” Yicel kembali ke tempat duduknya tadi.

“Iya,”

“Udah,”

“Terus hari ini mau baca apa rencananya?”

Bola mata Yicel mengabsen semua deretan buku yang ada di rak depannya tanpa ada satu deretanpun yang terlewat. “Belom tau, saya kayaknya hari ini mau istirahat baca buku dulu,”

“Kenapa?”

“Lagi kurang mood baca aja,”

“Yaudah, saya tutup ya, nanti lima menit lagi saya turun,”

“Okeeei,” sahutnya antusias kemudian mematikan panggilan teleponnya.

Selama lima menit dari Bhumi menutup telepon, Yicel hanya sibuk menggulir layar hp-nya yang menampilkan halaman media sosial sambil sesekali menoleh ke anak tangga yang di pegangan tangganya ada papan gantung bertuliskan ‘Staffs Only’.

“Katanya lima menit, tapi lama banget,” keluh Yicel ke pemilik kafe yang baru saja melangkahi anak tangga urutan terakhir dari atas.

“Ke warkop depan yang samping halte itu yuk, Cel,” ajak Bhumi.

Yicel bingung, kenapa Bhumi mengajaknya ke warung kopi orang lain, sementara dia sendiri punya yang lebih dari sekedar warung kopi.

“Disana ada pancong lumer enak, Cel,” dari sebelah kursi, Bhumi mencondongkan badannya sedikit, agar lebih dekat dengan telinga Yicel.

Sebetulnya, se-simple Yicel bilang kalau dia lagi ada di mood yang kurang bagus untuk membaca buku hari ini di telepon tadi, Bhumi udah langsung paham kalo penyebabnya adalah pancong lumer yang belum waktunya dijual dan juga mbak kasir yang julidnya nggak bisa ditahan itu.

Yicel bangun dari duduknya. “Awas aja kalo ga enak,”

“Enak kok, percaya sama saya, ga kalah enak sama yang udah pernah kamu makan di sini,”

“Yaudah ayo,”

Lalu, mereka berjalan beriringan pergi menuju warkop sebrang. Bhumi mendorong pintu dari dalam, menahan pintunya supaya tetap terbuka sebelum manusia kecil, imut, dan lucu yang sedari tadi berjalan membuntutinya itu keluar.

Nggak memakan banyak waktu untuk sampai ke depan bangunan kecil dua petak yang di depannya ada spanduk ‘Warkop Bang Jack’ itu.

“Eh… Mas Bhumi, masuk sini, Mas, —Bah!! Bontaaa!! ada Mas Bhumi nih!” kedatangan Bhumi dan Yicel disambut baik oleh Bu Nur.

“Lagi libur, Bhum?” tanya Abah yang baru aja muncul dari tirai pembatas di antara dua petak bangunan.

“Iya, Bah, ini baru selesai semesteran,” Bhumi salim ke Abah Jaka dan Bu Nur diikuti Yicel.

Abah Jaka, atau biasa dikenal dengan panggilan ‘Bang Jack’ adalah pria empat puluh delapan tahunan yang super sederhana dan apa adanya. Kesibukkannya kalau pagi, antar koran langganan dari rumah ke rumah, kalau siang sampai malam, bantu-bantu istri dan anaknya dagang di warkop.

‘Warkop Bang Jack’ — Bangunan satu lantai, dua petak ini sekaligus jadi tempat tinggal buat Keluarga Abah Jaka. Meskipun kapasitasnya cukup kecil, keluarga Abah Jaka nggak pernah berhenti bersyukur atas nikmat yang udah dikirim Tuhan lewat perantara Bhumi, seenggaknya sekarang Abah udah nggak perlu pusing lagi mikirin gimana nasib istri sama anaknya yang setiap malam harus tidur ngemper di depan ruko tutup beralaskan kardus bekas.

“Widihh, anak sekolahan swasta belagu kayak lu gini ternyata bisa mampir ke warkop juga,” nggak ada angin nggak ada hujan, Bonta tiba-tiba berucap hal yang bikin satu ruangan mengerutkan alis kecuali Yicel.

Tatapan Abah Jaka dan Bu Nur sama-sama khawatir melihat perubahan muka Yicel, mereka nggak enak karena tahu kalau yang bawa Yicel datang ke tempatnya itu Bhumi.

“Booon…, Yicel ini adeknya Mas Bhumi, kamu jangan sembarangan ngomong kayak gitu,” ucap Abah Jaka asal.

“Hah? emang iya, Mas?” tanya Bonta ke Bhumi karena merasa kurang yakin sama ucapan Abahnya.

Bhumi sama sekali nggak natap Bonta marah ataupun kesal ke Bonta, Bhumi tetap mengeluarkan senyum ramahnya seperti biasa. “Iya, Bon,”

Bonta kelabakkan. “Maap, Mas, maap banget, saya ga tau, kirain…,”

“Kirain apa?! udah, udah, sana kamu masuk aja, lanjutin ngaduk adonan pancongnya dari pada disini cuma bikin emosi aja,” ucap Bu Nur.

“Et, iya, Bu, — Mas, masuk dulu ya,” pamit Bonta salah tingkah.

“Mau makan apa nih, Mas Bhumi?” tanya Abah Jaka.

“Ini, dia pengen nyobain pancong lumer di sini katanya,” ucap Bhumi.

“Apasih???? enggaaaa,” Yicel yang dituduh sembarangan itu langsung ngelak sewot dan disambut tawa yang saling menyambar di antara ketiga orang yang menyaksikannya.

“Pancong lumer yang meses warna-warni dua ya, Bu,”

“Siap,” Bu Nur mengacungkan satu jempol ke Bhumi dan meminta tolong Abah untuk segera membuatkan pancong lumer meses warna-warni itu. “Minumnya apa, Mas?”

“Biasa, Bu, teh tarik pake es,”

“Kamu juga es teh tarik?” tanya Bu Nur ke Yicel.

“Nggak, Bu, dia alergi susu sapi,” ucap Bhumi setelah mengingat suara obrolan Yicel dan Mbak kasir di telepon tadi. “Kamu mau minum apa, Cel?”

Yicel noleh ke Bhumi. “Mau bubur ketan item, boleh ga, Mas?”

“Boleh, terus minumnya jadi mau apa?” tanya Bhumi lagi.

“Ini aja, Bu,” Yicel tarik sedikit rencengan minuman bubuk perisa jeruk dalam kemasan sachet.

“Pake es nggak?”

“Pake, tapi jangan banyak-banyak, terus gulanya juga jangan banyak-banyak, Bu,”

“Sipp,” Bu Nur segera menyiapkan pesanan mereka.

Di dalam warkop cuma ada dua kursi kayu panjang membentuk letter L mengelilingi meja panci aneka bubur. Bhumi dan Yicel memilih untuk duduk di kursi yang dekat dengan pintu.

Nggak menunggu waktu yang lama, semua pesanan sudah disajikan sedap di depan mereka.

Yicel dihadapkan dengan sepiring pancong lumer, semangkuk bubur ketan hitam, dan segelas es teh tarik.

“Dimakan, Cel,” ucap Bhumi. Melihat Yicel yang sepertinya bingung mau mencicip yang mana dulu di antara pancong lumer dan bubur ketan hitam, akhirnya Bhumi menggeser piring pancong lebih mendekat ke Yicel dibanding mangkuk bubur ketan hitamnya. “Masa cuma diliatin aja? tadi katanya mau pancong lumer,” ucap Bhumi.

Yicel langsung memotong kecil kue pancongnya dan disuap ke dalam mulut. “Enak banget lagi, lebih enak ini dibanding sama yang di cafe,” pujinya.

“Tuh, kan, saya bilang juga apa,” Bhumi pandangi wajah dengan dua pipi gembil yang sedang sibuk mengunyah pancong lumer di sebelahnya itu.

Yicel menyuapkan lagi setelah kunyahan pertama di dalam mulutnya habis. “Humpah, enhag bangekt,” ucap Yicel sambil mengunyah.

Lalu, setelahnya nggak ada obrolan apapun di antara mereka selama makan. Palingan, Bhumi yang nggak berhenti senyum lihat Yicel menyuap lahap pancong dan bubur ketan hitamnya sampai habis bersih.

Setelah urusan makan dan bayar-membayar selesai, Bhumi dan Yicel pamit ke Abah Jaka juga Bu Nur. Sepasang orangtua itu berpesan untuk “Lebih sering lagi mampir ke warkopnya ya, Mas Bhumi sama Yicel, orang deket gini juga, kita hadep-hadepan lho, Mas, kok bisa-bisanya udah jarang mampir sekarang?” dan dibalas dengan kekehan ngeles Bhumi “Sibuk kuliah semester tua, Bah…,”

Lalu, Bhumi dan Yicel pamit yang kedua kalinya untuk keluar dari pintu warkop.

“Mau langsung pulang?” tanya Bhumi ke Yicel sambil berjalan terus ke halte bus kota.

“Iya, tapi mau ambil tas sekolah dulu, kan tadi saya tinggal di sana,” Yicel tunjuk kafe Bhumi yang ada di sebrang.

Bhumi mengeluarkan hp dari saku celananya, menelepon salah satu karyawan untuk minta tolong membawakan tas sekolah Yicel ke sini supaya Yicel nggak perlu repot bolak-balik, kalau karyawannya yang repot, dia sih masa bodo.

“Kamu naik bus yang koridor berapa, Cel?”

Yicel menjawabnya dengan menunjukkan lima jarinya ke Bhumi.

“Coba liat moovit, bus kamu dateng jam berapa?” perintah Bhumi yang langsung di-iya-kan Yicel.

“Lima menit lagi,” jawab Yicel menunjukkan layar hp-nya ke Bhumi.

'Moovit' itu semacam aplikasi yang biasanya digunakan para pengguna transportasi umum untuk melihat rute atau jadwal keberangkatan angkutan-angkutan umum dari tempat pemberhentian satu ke tempat pemberhentian berikutnya.

“Nih, bus saya,” ucap Yicel menunjuk bus kota yang baru aja berhenti tepat di hadapannya.

“Ayo, saya temenin sampe rumah,”

“Hah???” Yicel bingung lihat Bhumi yang sudah masuk ke dalam bus duluan.

“Agak belakangan aja, Cel, supaya ga terlalu desek-desekkan sama orang, sini,” ajak Bhumi dan lagi-lagi diturutin sama Yicel. “Berarti kamu kalo pulang sore, selalu kegiling tipis gini ya badannya, Cel?” tanya Bhumi.

“Iya, tapi dinikmatin aja ga sih? biar nanti pas saya udah tua, saya punya cerita ke anak, cucu saya,” ucap Yicel.

Bhumi tersenyum mendengarnya. Selama beberapa minggu kenal Yicel, Yicel itu bisa dikategorikan ke dalam nominasi anak paling jarang ngeluh kecuali ngeluh soal pelajaran sejarah di sekolahnya. Bhumi kagum, karena biasanya anak seumuran Yicel gini kerjaannya ngeluh mulu dan selalu merasa dirinyalah yang paling lelah, letih, lesu, lunglai di muka bumi ini. Padahal, setiap orang juga pasti punya porsi capeknya sendiri tanpa pandang umur, cuma, cara menghadapi rasa capeknya aja yang beda-beda.

Ting… Tung… Ting… Tung… Bundaran Anggrek. Pemberhentian berikutnya Taman Indah Dua. Periksa kembali barang bawaan anda, dan hati-hati melangkah. Terima kasih.

“Kamu turun di Taman Indah Dua kan??” tanya Bhumi ketika bus kota berhenti di sebuah halte.

“Iya, — nanti Mas Bhumi ga usah ikut turun,”

“Lah? kalo saya ga ikut turun nanti saya dibawa pulang ke rumah supir bus-nya, Cel,”

“Nggak lucu lagi, Mas,” sinis Yicel.

“Ya, sorry, saya kan emang dari kecil sama sekali ga ada bakat srimulat, Cel,” sebenernya Bhumi malu dibilang kayak gitu, tapi nggak apa-apa, ini bisa jadi motivasi supaya dia belajar jadi orang yang lebih pinter buat jokes lagi.

Ting… Tung… Ting… Tung… Taman Indah Dua…

“Ayo turun,” ajak Bhumi.

Mereka berdua nggak sadar kalau sedari tadi banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, berusaha menelisik “Menurut lu, ini orang pacaran apa cuma adek-kakak?” semua penumpang seperti penasaran, semua penumpang seperti ingin tahu, lebih tepatnya semua penumpang gemas dan dibuat untuk cepat-cepat turun walaupun itu bukan halte destinasinya, dan membiarkan dua pasang anak muda ini menguasai seisi bus kota koridor lima.

“Ini Mas Bhumi beneran mau ikut sampe rumah?” tanya Yicel karena melihat nggak ada tanda-tanda Bhumi pamitan setelah sampai di depan gerbang komplek.

“Ga boleh emang?” Bhumi menaikkan satu alisnya.

“Ya, boleh, tapi nanti Mas Bhumi pulangnya gimana? emang ga capek apa jalan ke depan buat nungguin bus lagi?”

“Jaman sekarang udah ada yang namanya ojol, Cel, udah, gampanglah itu,”

“Yaudah deh, ayo,” Yicel berjalan mendahului Bhumi dan nggak lupa untuk menyapa satpam komplek di pos.

Selesai sudah untuk kisah gemas Bhumi dan Yicel hari ini.